BENGKULU,- Hamparan batuan silikat di alam bebas sering kali luput dari pandangan, dianggap tak lebih dari sekadar bagian keras dari kerak bumi. Namun, di tangan seorang ilmuwan yang tekun, batuan tersebut menyimpan rahasia besar: sebuah kemampuan alami untuk “bernapas” dan mengonsumsi karbon dioksida (CO2) yang kian pekat mengepung atmosfer bumi.
Potensi tersembunyi inilah yang membawa Dr. nat. techn. I Nyoman Candra, M.Sc., seorang dosen dan peneliti Kimia Lingkungan dari Universitas Bengkulu (UNIB), kembali terbang ke Eropa. Nyoman terpilih sebagai salah satu ilmuwan muda dunia yang lolos seleksi ketat program Joint Excellence Science and Humanities (JESH) tahun 2025.
Melalui fellowship pascadoktoral bergengsi yang didanai oleh Österreichische Akademie der Wissenschaften (OeAW) atau Akademi Sains Austria ini, ia akan menghabiskan waktu selama enam bulan di Boku University, Wina, Austria. Misi yang dibawanya berat namun mulia: meneliti percepatan pelapukan batuan (rock weathering) sebagai strategi global mitigasi perubahan iklim.
Mempercepat Reaksi Alam
Pemanasan global global saat ini bukan lagi sekadar ancaman di atas kertas, melainkan kenyataan yang ditandai dengan cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Karbon dioksida menjadi salah satu terdakwa utama sebagai gas rumah kaca yang menaikkan suhu bumi.
Nyoman menjelaskan bahwa secara alami, batuan silikat (CaSiO3) yang mengalami pelapukan akibat berinteraksi dengan air dan udara sebetulnya mengonsumsi gas karbon dioksida. Proses kimia tersebut melarutkan senyawa karbon menjadi bentuk yang lebih stabil dan aman bagi lingkungan. Reaksi kimianya berjalan lambat di alam:
CaSiO3 + 2CO2 + 3H2O → Ca2+ + 2HCO3− + H4SiO4
Tantangannya adalah bagaimana manusia bisa memanfaatkan siklus alami ini secara masif untuk mengejar ketertinggalan kita dalam mengerem laju emisi. Melalui riset pascadoktoral di Boku University, kampus top dunia di jajaran QS 100 by subject yang juga menjadi almamater S-3 nya, Nyoman mencoba membedah interaksi tersebut demi melahirkan strategi penurunan karbon atmosfer yang efektif.
“Sains tidak boleh berjarak dengan realitas,” menjadi prinsip yang tampaknya teperikan dari konsistensi riset Nyoman. Sebelum bertolak ke Austria untuk keberangkatan tahun 2026 ini, dedikasinya pada isu iklim telah diakui di belahan bumi lain. Pada periode 2024–2025, ia dianugerahi beasiswa Fulbright Visiting Scholar di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.
Di Negeri Paman Sam, ia meneliti karakteristik karbon organik pada tanah vulkanik. Sebuah riset yang sangat kontekstual bagi Indonesia yang takdir geografisnya dikepung oleh deretan gunung berapi aktif dalam jalur Cincin Api (Ring of Fire). Tanah vulkanik yang subur di tanah air rupanya memiliki kapasitas besar untuk menjadi “bunker” pengunci karbon, mencegahnya lepas dan merusak lapisan ozon.
Estafet Peneliti Muda
Lolosnya Nyoman dalam program JESH menjadi angin segar sekaligus pembuktian bahwa peneliti dari luar Pulau Jawa, seperti Bengkulu, mampu bersaing di panggung sains internasional. JESH sendiri dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan peneliti muda berbakat (dengan pengalaman maksimal 10 tahun pasca-S3) dari 61 negara dengan pusat-pusat keunggulan sains di Austria.
Bagi komunitas akademik di Indonesia, gerbang kolaborasi internasional ini menjadi potret penting bahwa riset-riset lingkungan hidup tanah air sangat dinanti oleh dunia. Meski seleksi keberangkatan terdekat baru saja ditutup pada 7 Juli 2026, peluang serupa diproyeksikan akan kembali dibuka pada periode Maret hingga Juli tahun depan. Informasi berkala dapat diakses resmi melalui laman stipendien.oeaw.ac.at/stipendien/jesh.
Dari laboratorium sederhana di pesisir barat Sumatra hingga pusat riset mutakhir di Wina, perjalanan ilmiah I Nyoman Candra mengingatkan kita kembali: solusi atas krisis bumi sering kali berada di sekitar kita, menunggu untuk digali oleh ketekunan yang tak kenal batas.(*)
Selayang Pandang Peneliti
-
Nama Lengkap: Dr. nat. techn. I Nyoman Candra, S.Si., M.Sc.
-
Instansi: Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Bengkulu (UNIB).
-
Fokus Keahlian: Kimia Lingkungan dan Geokimia Mitigasi Iklim.
-
Pendidikan:
-
S-1 Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM)
-
S-2 TU Braunschweig, Jerman
-
S-3 University of Natural Resources and Life Sciences (Boku), Wina, Austria.
-

