Share it

Program Perencanaan Gizi Prodi D4 Gizi Diawali dengan Musyawarah Masyarakat di Kecamatan Gading Cempaka

Selimburcaya.com BENGKULU — Upaya memahami persoalan gizi dari kondisi nyata di lapangan mulai dilakukan mahasiswa Program Studi D4 Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu melalui kegiatan Musyawarah Masyarakat di Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu, Senin (5/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Camat Gading Cempaka tersebut menjadi tahap awal Program Perencanaan Gizi. Musyawarah melibatkan unsur pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, kader Posyandu, perangkat wilayah, dosen, mahasiswa, serta masyarakat untuk bersama-sama mengidentifikasi persoalan gizi dan menentukan kebutuhan yang menjadi perhatian di wilayah setempat.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Camat Gading Cempaka, Kurnia Ika Rahmawati, S.Pt. Dalam sambutannya, ia menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Program Perencanaan Gizi serta menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam menghadapi persoalan kesehatan dan gizi masyarakat.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah wilayah, tenaga kesehatan, kader, masyarakat, institusi pendidikan, dan mahasiswa diperlukan agar upaya peningkatan kesehatan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Musyawarah tersebut juga dihadiri Petugas Gizi Puskesmas Pasar Ikan, Ermawati, SKM, Dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Dr. Emy Yuliantini, SKM., MPH, para Ketua RT di wilayah Kecamatan Gading Cempaka, kader Posyandu, serta mahasiswa Program Studi D4 Gizi.

Dalam forum tersebut, peserta berdiskusi mengenai berbagai persoalan gizi yang ditemukan di lingkungan masyarakat. Berbagai masukan dari tenaga kesehatan, kader, perangkat wilayah, dan masyarakat menjadi bahan bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran kondisi lapangan sekaligus menentukan masalah yang perlu diprioritaskan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum untuk membahas permasalahan gizi, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa di luar ruang kelas. Mahasiswa dilatih untuk berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat, menggali informasi, menganalisis kondisi wilayah, menentukan prioritas masalah, hingga merancang alternatif pemecahan yang sesuai.

Dosen pendamping Program Studi D4 Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Dr. Emy Yuliantini, SKM., MPH, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi masalah gizi berdasarkan kondisi nyata di masyarakat dan selanjutnya menyusun perencanaan program yang tepat, realistis, serta melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Dalam proses perencanaan tersebut, keterlibatan kader Posyandu dan masyarakat menjadi salah satu bagian penting. Mereka dinilai memiliki kedekatan langsung dengan warga sehingga dapat memberikan informasi mengenai kondisi, kebutuhan, serta potensi yang terdapat di lingkungan masing-masing.

Hasil musyawarah selanjutnya akan digunakan sebagai bahan bagi mahasiswa untuk memasuki tahapan berikutnya, yakni pengkajian masalah secara lebih mendalam, penentuan prioritas, penyusunan alternatif pemecahan masalah, hingga perencanaan intervensi gizi berbasis masyarakat.

Program ini sekaligus menjadi bentuk pembelajaran berbasis pengalaman bagi mahasiswa D4 Gizi. Selain meningkatkan kemampuan akademik dan teknis, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa perencanaan program kesehatan perlu disusun berdasarkan kondisi riil serta melibatkan masyarakat sebagai bagian dari prosesnya.

Program Studi D4 Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu berharap rangkaian Program Perencanaan Gizi di Kecamatan Gading Cempaka dapat berlangsung secara kolaboratif dan berkelanjutan. Hasil pemetaan masalah dan masukan masyarakat diharapkan menjadi pijakan dalam merancang program gizi yang lebih sesuai dengan kebutuhan wilayah.

Musyawarah masyarakat ini pun menjadi langkah awal untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar merancang program gizi yang tidak hanya tepat secara teori, tetapi juga relevan dengan kondisi di lapangan. (Nurul R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *