Budaya Daerah Rejang Lebong 

Meriahkan HUT Curup Ke 144, Pemkab Rejang Lebong Gelar Lomba Menganyam Bokoa Iben

Share it
Lomba menganyam Bokoa Iben (Menganyam bakul sirih dengan menggunakan bambu atau rotan). dilaksanakan di Panggung Utama HUT Kota Curup, Lapangan Dwi Tunggal Curup siang itu, Jum’at, (10/5/2024).(foto:Zoel/Selimburcaya.com)

Rejang Lebong, Selimburcaya.com – Pemerintah Kabupatem (Pemkab) Rejang Lebong melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Rejang Lebong menggelar Lomba menganyam Bokoa Iben (Menganyam bakul sirih dengan menggunakan bambu atau rotan).

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Curup ke-144 yang dilaksanakan di Panggung Utama HUT Kota Curup, Lapangan Dwi Tunggal Curup siang itu, Jum’at, (10/5/2024).

Lomba tersebut dibuka oleh ketua panitia pelaksana, Primaya Lusiana, SE serta dihadiri oleh Kabid Kebudayaan Disdikbud Rejang Lebong, Dewan Juri, para peserta serta diikuti oleh masyarakat Rejang Lebong.

Dalam sambutannya, ketua panitia lomba menganyam Bokoa Iben, Primaya Lusiana, SE menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam lomba ini.

“Saya ucapkan banyak terima kasih kepada panitia, dewan juri dan para peserta lomba yang telah ikut serta dalam lomba Menganyam Bokoa Iben ini,” ujar Primaya.

“Lomba ini dilaksanakan untuk pertama kalinya sekaligus memeriahkan HUT Kota Curup ke-144,” tambahnya.

Dia juga menyampaikan tujuan dilaksanakannya lomba ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada para pengrajin Bokoa Iben untuk mengikuti perlombaan.

Kegiatan ini juga sebagai ajang dalam menyampaikan salah satu bentuk kerajinan yang dimiliki oleh Rejang Lebong.

“Kami berharap keahlian dalam menganyam Bokoa Iben ini dapat diturunkan atau diajarkan kepada para generasi muda, agar kedepannya kerajinan ini tidak punah dimakan zaman,” tutupnya.

Sementara itu salah satu dewan juri Nasrul Dahori yang juga merupakan budayawan asal Rejang Lebong, dia menyampaikan ada 5 kriteria penilaian dalam lomba menganyam Bokoa Iben ini.

“Ada lima kriteria penilaian yakni kreativitas, bentuk anyaman, kerapihan anyaman, ketetapan bahan yang digunakan dan ketetapan waktu,” jelasnya.

Untuk diketahui Bokoa Iben merupakan sebuah tempat untuk menyimpan peralatan orang yang suka mengunyah sirih (makan sirih). Kata Bokoa merupakan bentuk perubahan dari kosa kata “bakul’ dalam bahasa Indonesia.

Perbedaannya kalau bakul ukuran rata-rata besar dan ada juga yang kecil. Tapi kalau bokoa bentuknya kecil berdiameter seukuran piring makan dengan tinggi sekitar 15-20 cm.

Ditambah semacam tabung kecil terbuat dari kayu dengan ukuran lebih kurang sebesar bambu kecil yang di dalamnya ada lubang. Kegunaannya adalah untuk menumbuk gambeia dan tembakau.

Gambea itu sendiri berupa daun pohon Gambea yang tumbuh di tengah hutan. Yang diambil adalah daun yang tua kemudian direbus dan dijemur, untuk menghasilkan daun gambea campuran makan sirih yang berkualitas.

Semua bahan makan sirih di dalam bokoa iben itu disusun sedemikian rupa, sehingga bokoa yang kecil itu bisa memuat di dalam bokoa-ditambah dengan isinya ‘iben’ maka jadi “bokoa iben’ terdiri dari iben (saun sirih), buak pinang (buah pinang)-yang sudah dikupas kulitnya, odot (tembakau), gambeia (daun gambir), pisau kecil yang tajam.

Kemudian tutuk titik (penumbuk kecil yang terbuat dari kayu kecil berbentuk tabung) banyak daun sirih, tembakau, gambiea dan buah pinang.

Sedangkan di bagian atas bokoa ada penutupnya yang merupakan satu set dengan bokoa itu sendiri. Bokoa iben terbuat dari anyaman bambu yang sangat rapih dan berkualitas, sehingga tahan lama dan tahan banting (tidak cepat rusak).

Pewarta : Zoel

Editor : Ardy

Related posts

Leave a Comment